Sabtu, 12 Januari 2008

Mengenang Bapak Koperasi Indonesia

Koperindo.com
Pidato Bung Hatta, Tanggal 12 Juli 1951 (Ringkasan dari berbagai sumber)
"Apabila kita membuka UUD 45 dan membaca serta menghayati isi pasal 38, maka nampaklah di sana akan tercantum dua macaom kewajiban atas tujuan yang satu. Tujuan ialah menyelenggarakan kemakmuran rakyat dengan jalan menyusun perekonomian sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Perekonomian sebagai usaha bersama dengan berdasarkan kekeluargaan adalah koperasi, karena koperasilah yang menyatakan kerja sama antara mereka yang berusaha sebagai suatu keluarga. Di sini tak ada pertentangan antara majikan dan buruh, antara pemimpin dan pekerja. Segala yang bekerja adalah anggota dari koperasinya, sama-sama bertanggung jawab atas keselamatan koperasinya itu. Sebagaimana orang sekeluarga bertanggung jawab atas keselamatan rumah tangganya, demikian pula para anggota koperasi sama-sama bertanggung jawab atas koperasi mereka. Makmur koperasinya, makmurlah hidup mereka bersama, rusak koperasinya, rusaklah hidup mereka bersama."

Riwayat Hidup Bung Hatta (Ringkasan dari berbagai sumber)

Dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera barat, pada tangal 12 Agustus 1902 dari keluarga yang taat beragama; H. Mohammad Djamil (Bapak) dan Siti Saleha (Ibu). Semasa kecilnya, Mohammad Hatta sering dipanggil Mohammad Athar, dan ketika memasuki masa perjuangan kemerdekaan, beliau lebih populer dan lebih terasa akrab dengan nama Bung Hatta, yang pada saat itu lebih bermakna "saudara seperjuangan".

Beliau kawin pada umur 42 tahun dengan Rahmi, setelah Indonesia merdeka, yang kemudian mereka dianugerahi tiga orang puteri; Meutia, Gemala, dan Halida. Bung Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 dan dimakamkan di tengah-tengah rakyat, di Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Bung Hatta memperoleh pendidikan dasar (SR) dan sekolah menengah (MULO) di Padang, dan kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School dan tamat tahun 1921. Walaupun beliau ditawari pekerjaan dengan gaji yang cukup tinggi (f 350), namun ditolaknya karena beliau ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi ke negeri Belanda di Rotterdamse Handelschogenschool. Disinalah Bung Hatta mulai berkecimpung dalam organisasi pemuda yang saat itu diketuai oleh Dr.Soetomo (Bung Tomo).

Ketika kembali ke Indonesia, beliau aktif pula dalam dunia pers; anggota Dewan Redaksi "Hindia Poetra" dan majalah Daulat Rakyat. Dimasa-masa inilah Bung Hatta berkenalan dengan Bung Karno (Ir. Soekarno). Perjuangan Bung Hatta tidak mungkin kita lupakan begitu saja, karena memiliki nilai sejarah yang sangat berarti bagi negara dan bangsa Indonesia. Bung Hatta, bukan saja seorang proklamator di samping Bung Karno, beliau adalah juga seorang arsitek negara. Beliau adalah figur yang sedikit bicara tetapi lebih banyak berbuat. Oleh karena itu, Bung Hatta tidak hanya disegani oleh rakyat Indonesia, tetapi juga oleh bangsa lain, terutama dalam era perjuangan kemerdekaan. Bahkan beliau lebih disegani dan dikagumi karena kemampuannya menggalang masyakat internasional dengan menguasai bahasa asing, seperti bahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman. Bung Hatta selain Wakil Presiden RI pertama, beliau pernah menyamar sebagai co-pilot ke India untuk bertemu dengan Gandhi dan Jawaharlal Nehru. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan, Bung Hatta mengalami penangkapan dan pembuangan oleh pemerintah Belanda, antara lain ke Tanah Merah, Digul, ke Banda Neira, kemudian ke Sukabumi, sebelum Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942.

Pada dasarnya, penangkapan dan pembuangan Bung Hatta disebabkan oleh penolakannya atas bujukan Belanda untuk bekerja sama. Bung Hatta dikenal sebagai seorang yang sangat memegang teguh kedisiplinan, kesederhanaan, keimanan dan ketaqwaan yang tinggi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, rasa kasih dan tidak kasar, bersih serta jujur, dan selalu berorientasi pada rakyat kecil dan lemah.

Perhatian beliau yang dalam terhadap penderitaan rakyat kecil mendorongnya untuk mempelopori Gerakan Koperasi yang pada prinsipnya bertujuan memperbaiki nasib golongan miskin dan kelompok ekonomi lemah. Karena itu Bung Hatta hanya berkenan menerima gelar Bapak Koperasi Indonesia.

Walaupun sebelumnya beliau menolak segala bentuk gelar yang muluk-muluk yang pernah ditawarkan. Di samping itu, Bung Hatta adalah seorang intelektual sejati dan sangat haus dengan ilmu pengetahuan.

Beliau sangat suka membaca, rajin membeli buku, punya jadwal khusus untuk membaca dan menulis di perpustakaan pribadi sehingga pada akhirnya beliau meninggalkan puluhan ribu buku milik pribadi dan berbagai tulisan yang tersebar di dalam mapun di luar negeri.

Akhirnyanya nama besar Bung Hatta dengan segala sikap, kepribadian, dan berbagai atribut lain yang melekat pada dirinya dijadikan sebagai landasan perjuangan bagi YAYASAN PENDIDIKAN BUNG HATTA melalui penyelenggaraan Universitas Bung Hatta Padang yang didirikan pada tahun 1981 dan Program Beasiswa Bung Hatta yang dimulai pada tahun ajaran 1997/1998.

Tidak ada komentar: