Rabu, 23 Januari 2008

Energi dan Aksi Korporasi 2007

Oleh :J.B. SOESETIYO
Ralph Fletcher, seorang penulis beragam buku—novel, puisi, hingga buku-buku pendidikan—mengajari banyak orang tentang perlunya membuat catatan, baik itu tentang hal-hal yang penting maupun tidak penting. Ia menekankan betul pentingnya detail dalam setiap catatan. Katanya, suatu ketika catatan itu bisa menjadi “harta karun” jika kita bisa memanfaatkan ide-ide yang tertuang di dalamnya

Ia bercerita, ketika kecil pernah mengamati kerja seorang penggali lubang telepon yang tengah bekerja di depan rumahnya. Lubang yang dibiarkannya kosong, suatu ketika tak akan pernah kosong lagi. Ada saja isi di dalamnya—entah sekadar sampah ataupun binatang-binatang yang terjebak.
Suatu hari, Fletcher membuat lubangnya sendiri. Ia memilih tempat yang aman, jauh dari rumahnya, di pinggir hutan. Ia membuat lubang berdiameter 50 sentimeter dan sedalam satu meter. “Seperti itulah caranya membuat catatan,” katanya. Lubang yang kosong itu akhirnya berisi sesuatu.
Liputan kami pada edisi ini pun bak sebuah lubang. Ia kami siapkan menjadi catatan. Isi yang masuk beragam, dan tak seperti anggapan Fletcher—pokoknya terisi oleh apa saja. Tidak. Isi catatan kami kali ini malah berisi tentang kisah orang-orang yang luar biasa, tentang apa yang mereka lakukan selama 2007, yang akhirnya mengerucut pada beberapa nama: Prajogo Pangestu, Hary Tanoesoedibjo, Tomy Winata, Anindya Bakrie, Rusdi Kirana, hingga Anthony Salim.
Mari kita ulas dua di antaranya.
Banyak orang mengira Prajogo Pangestu sudah habis. Memang, ia masih kaya—majalah Forbes (2006) menempatkannya pada peringkat ke-13 dalam kelompok 40 orang terkaya se-Indonesia—tetapi tak banyak lagi bisnis yang dilakukannya. Mesin uangnya, perusahaan kayu PT Barito Pacific Timber Tbk., per Juni 2007 hanya membukukan penjualan Rp106,43 miliar, turun 40% dibanding tahun sebelumnya. Maka, tak heran jika pada periode itu Barito Pacific pun merugi Rp9,5 miliar.
Bisnis skala ini jelas bukan kelasnya seorang Prajogo Pangestu, yang pada era 1990-an dikenal sebagai taipan kayu. Dan, memang bukan. Pada usianya yang memasuki 63 tahun, Prajogo masih memiliki energi yang luar biasa untuk merebut kembali Chandra Asri, perusahaan produsen biji plastik terbesar se-Indonesia yang didirikannya tahun 1991 dan ia lepas akibat terkaman krisis ekonomi 1997. Bahkan, ia masuk ke bisnis energi dengan mengakuisisi PT Star Energy. Semua akuisisi itu bernilai Rp19,7 triliun.
Lantas, dari mana Prajogo mendapatkan dana untuk membiayainya? Sebagian di antaranya lewat PT Barito Pacific Tbk.—yang kini tak lagi memakai kata “Timber”. Perusahaan itu akan melakukan rights issue senilai Rp9,1 triliun guna membiayai semua akuisisi Prajogo tadi. Sungguh membutuhkan energi yang sangat luar biasa untuk membuat perusahaan yang per Juni 2007 hanya membukukan penjualan Rp106,43 miliar dan merugi Rp9,5 miliar, mampu menjaring dana sebanyak Rp9,1 triliun.
Sementara itu, Rusdi Kirana betul-betul contoh kisah From Zero to Hero. Mulanya ia seorang calo tiket di Bandara Soekarno-Hatta. Namun, garis tangan dan kerja keras membawanya menjadi dirut Lion Air, sebuah maskapai yang menjadi pelopor bisnis penerbangan bertiket murah. Bisnis Rusdi, yang semula termasuk kategori blue ocean—ia melenggang sendirian, nyaris tanpa lawan—kini berubah menjadi red ocean. Bisnis penerbangan bertiket murahnya ditiru oleh banyak pelaku usaha lainnya. Persaingan bisnis ini di Tanah Air kian sengit.
Ancaman juga datang dari luar. Pada 2009, kebijakan open sky untuk kargo udara dimulai. Setahun berikutnya kebijakan yang sama berlaku untuk angkutan penumpang. Siapa yang tak jeri bersaing dengan Singapore Airlines, salah satu penerbangan terbaik di dunia? Namun, Rusdi menghadapinya dengan penuh energi. Ia melakukan antisipasi dengan membeli 122 pesawat baru yang lebih efisien penggunaan bahan bakarnya senilai Rp43,2 triliun. Asal Anda tahu, bahan bakar ini menyedot hampir 30% dari seluruh biaya. Pria kelahiran 17 Agustus 1965 ini juga berencana masuk ke pasar penerbangan sejumlah negara dengan mengakuisisi perusahaan penerbangan asal negara tersebut.
Kisah Prajogo Pangestu, Rusdi Kirana, juga Tomy Winata—membangun jembatan yang menghubungkan Jawa-Sumatera senilai US$10 miliar dan jelas membutuhkan energi yang luar biasa—serta Hary Tanoe, Anindya Bakrie, hingga Anthony Salim itulah yang kami jadikan catatan pada edisi akhir tahun ini. Kami menyebutnya “Aksi-Aksi Korporasi Terpanas 2007”.###

Tidak ada komentar: